Apa itu Dampak?

Istilah dampak pada toolkit ini mengacu pada “setiap perubahan yang terjadi pada situasi atau konteks”. Menilai dampak adalah mendokumentasikan perubahan yang terjadi serta semua faktor yang berkontribusi dalam mencapai perubahan itu.

(Kami mencatat bahwa definisi ‘dampak’ berbeda dari praktek umum monitoring dan evaluasi).

Istilah ‘dampak’ tidak hanya untuk hal-hal yang ‘baik’. Menilai dampak berarti melihat dampak yang diinginkan dan yang tidak diinginkan – positif dan negatif – dan apa saja yang menyebabkan hal tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa seringkali sulit untuk membuktikan bahwa video Anda yang memberi dampak. Faktanya, sebagian besar perubahan pada situasi atau konteks tidak secara langsung disebabkan oleh inisiatif video Anda. Inisiatif Anda mungkin saja berkontribusi pada dampak (atau bahkan tidak sama sekali).

Saran kami, Anda menilai kontribusi Anda pada suatu proyek atau gerakan dengan melihat berapa besar pengaruh inisiatif Anda dan apa efeknya. Sikap rendah hati diperlukan untuk menilainya, begitu pula dengan kesediaan untuk mengakui dan menghormati bahwa kontribusi Anda bersifat melayani di dalam sebuah kerja bersama menuju sebuah tujuan yang lebih besar.

Seperti catatan Fledging Fund:

“Sebagian besar film dokumenter tentang isu sosial dan kampanye mereka memasuki komunitas (betapa pun kecil atau besar) aktivis, pemimpin, organisasi, dan koalisi yang telah meletakkan dasar jauh sebelum film dan kampanye tersebut disusun, dan mereka akan berada di sana untuk bertahun-tahun sambil terus membangun gerakan. Pekerjaan penting ini harus diakui.”
Sebelum Anda melakukan suatu inisiatif video di mana pun, ingatlah bahwa sudah ada orang-orang yang sudah lebih dulu peduli dan melakukan sesuatu. Mari kita tonton apa yang dikatakan Vivian Idris tentang ‘orang hebat’ ini.

Video for Change mengadopsi perspektif ini, menyadari bahwa video kampanye masuk ke dalam upaya kelompok yang sudah ada. Mungkin saja anggota komunitas yang terkena dampak adalah aktivis dan pemimpin yang berada di berbagai organisasi dan koalisi, tetapi bisa juga orang yang berada di luar struktur ini. Untuk itu kerangka kerja Video for Change menekankan pada pertimbangan komunitas terdampak itu sendiri.

Dampak Jangka Pendek versus Dampak Jangka Panjang

“Mendefinisikan dampak adalah menimbang serangkaian prioritas tentang suatu proses, hasil dan perubahan jangka panjang, dan juga berpikir jernih tentang siapa yang menentukan keseimbangan prioritas ini”
Sam Gregory, WITNESS

 

Toolkit ini membantu Anda memperoleh dan menganalisa dampak jangka pendek maupun dampak jangka panjang.

Dampak jangka pendek mencakup pemberian informasi kepada audiens baru tentang suatu persoalan melalui pemutaran film, membangun kapasitas gerakan sosial melalui pelatihan, atau memobilisasi target audiens untuk melakukan aksi (seperti menghadiri demonstrasi atau menandatangani petisi).

Dampak jangka panjang seperti mengubah perilaku sosial, mengubah hukum atau kebijakan publik, yang membutuhkan banyak upaya dari waktu ke waktu dari beragam pelaku dan para pemangku kepentingan.

 

Toolkit ini membantu memastikan video Anda bermanfaat tidak hanya bagi para pembuatnya, tetapi juga bagi komunitas yang terkena dampaknya, baik langsung maupun tidak langsung. Hal tersebut mendorong lingkungan dan konteks yang kolaboratif, membuat dampak meluas serta bertahan lebih lama.

Lihat Anna Har dari Freedom Film Network di Malaysia. Dia bicara tentang penilaian dampak sebuah inisiatif video untuk perubahan mengenai pencarian akses pelayanan kesehatan yang lebih baik di Malaysia.

 

Terkadang dampak adalah sesuatu kecil, misalnya apa yang dialami Sofia, seorang programmer dan impact producer dari Jakarta.

Dampak perlu didiskusikan dan didefinisikan pada tiap konteksnya. Tidak ada satu formula atau satu kunci sukses Video for Change yang dapat menjawab semua hal. Toolkit ini membantu Anda merancang formula terbaik agar inisiatif Anda berjalan seefektif mungkin.

Sebagai pertimbangan, Anda dapat melihat cerita dampak dari Kampung Halaman. Lihatlah bagaimana mereka mendefinisikan dampak dari video kampanye mereka yang berhasil mengangkat hak-hak kelompok agama minoritas.

Cerita Dampak: Ahu Parmalim

Judul: Ahu Parmalim, sebuah dokumenter pendek yang memantik diskusi tentang hak-hak agama minoritas di Indonesia
Tahun: 2016
Lokasi: Sumatera Utara dan Indonesia
Dibuat oleh: Cicilia Maharani, Kampung Halaman
Masalah: Remaja, hak-hak kelompok agama minoritas
Sasaran/tujuan video: Untuk memantik diskusi tentang remaja dan hak-hak kelompok agama minoritas di Indonesia.
Dampak dan capaian: Lebih dari 100 pemutaran sebagai pemantik diskusi para pemirsa tentang agama minoritas. Digunakan sebagai bahan pendidikan di sekolah umum untuk mengajar anak muda Indonesia tentang agama minoritas.
Metodologi: Dokumenter Pendek, Video untuk Advokasi, video grafik pendek pendidikan
Anggaran: —
Durasi video: 24 menit
Durasi proyek: 2 tahun

Ahu Parmalim adalah film dokumenter pendek karya Yayasan Kampung Halaman di Indonesia. Didirikan pada tahun 2006 di Yogyakarta, Kampung Halaman menawarkan ruang bagi remaja dan anak muda untuk memahami potensi dan persoalan di lingkungan tempat tinggal mereka melalui media. Kampung Halaman mengajak remaja dan anak muda Indonesia untuk menceritakan kisah mereka melalui video diary secara partisipatif. Pembuat video yang lebih berpengalaman memfasilitasi pembuatan catatan harian yang menekankan pentingnya konten video dan berproses daripada sekedar ‘cantiknya’ video sebagai hasil akhir. Video diary tersebut diputar dan diikuti dengan diskusi dengan para pemangku kepentingan seperti guru sekolah, orang tua, petugas polisi, dan pejabat pemerintah daerah. Kampung Halaman menjalankan online video depot tempat mereka mengarsipkan dan menyediakan ratusan video diary tersebut.

Latar Belakang Film

Ahu Parmalim adalah ‘Saya seorang Parmalim’ dalam bahasa Batak, bahasa daerah yang digunakan oleh orang Batak di Sumatera Utara. Film dokumenter pendek ini menceritakan tentang Carles Butar Butar, 17 tahun dan kehidupan sehari-harinya di Sumatera Utara.

Carles adalah seorang Parmalim, penganut agama Malim (Ugamo Malim) yang aktif. Penonton akan berkenalan dengan aktivitas keagamaan Ugamo Malim dan mengenal sosok Carles sebagai pemuda yang ramah, rajin, dan cerdas. Ia sangat dihormati, berprestasi di sekolah dan berbakti pada agama, keluarga, dan negaranya.

Orang tuanya adalah petani dengan penghasilan yang hanya cukup untuk bertahan hidup, tetapi Carles bermimpi menjadi seorang polisi. Namun syarat wajib untuk menjadi polisi di Indonesia adalah percaya pada ‘hanya satu Tuhan yang benar’.

Setiap warga negara Indonesia bebas memilih agamanya, hak tersebut dinyatakan dengan jelas dalam pasal 28 E Konstitusi Indonesia. Meskipun demikian, kelompok minoritas dan penganut kepercayaan adat atau agama lokal, seperti Ugamo Malim, selalu mengalami diskriminasi.

Mereka berjuang tidak hanya untuk menerima pengakuan dan perlindungan negara, tetapi juga untuk mendapatkan akses yang sama ke berbagai layanan publik, seperti apa yang dialami oleh Carles.

“Kami mengetahui bahwa Carles ditolak untuk bergabung dengan Kepolisian Indonesia karena ia bukan pengikut salah satu agama utama Indonesia,” jelas Chandra, manajer pendidikan dan teknologi di Kampung Halaman.

Dampak

Film dokumenter pendek yang sederhana namun menarik ini telah membuka diskusi tentang kebebasan beragama dan toleransi di Indonesia. Ahu Parmalim ditayangkan perdana pada Hari Toleransi Internasional (16 November 2017) di 40 lokasi di seluruh Indonesia secara bersamaan.

Dalam tiga bulan, Ahu Parmalim diputar lebih dari 100 kali. Film ini juga telah diputar dan dibahas di banyak titik di Indonesia, Australia, Malaysia, dan Amerika Serikat. Kampung Halaman terus menerima permintaan untuk pemutaran film ini.

Screening/pemutaran awal dilakukan melalui organisasi jaringan Kampung Halaman. Host (tuan rumah) menerima panduan pemutaran dan berbagai film animasi berdurasi satu menit yang disiapkan untuk memperkenalkan dan memberikan informasi latar belakang tentang topik-topik utama (Anda dapat melihat dua contoh film animasi ini di awal video ini).

Website (dalam bahasa Indonesia) memuat tanggal dan lokasi pemutaran yang sudah dan yang akan datang. Website ini juga menyediakan informasi tentang latar belakang dan formulir online untuk mengumpulkan laporan dan dokumentasi pemutaran film. Mereka yang tertarik untuk mengadakan pemutaran film dapat mengirimkan permintaan mereka di sini.

Awalnya Kampung Halaman memposting film ini secara online, namun akhirnya memutuskan untuk membuatnya offline dan hanya membagikannya secara langsung kepada mereka yang tertarik.

“Kami ragu bahwa dengan hanya menghitung hit, kami dapat untuk mengukur dampak nyata dari film,” jelas Chandra. “Fakta bahwa Ahu Parmalim telah jauh melampaui target awal pemutaran yaitu 20 pemutaran serta banyaknya komentar yang kami dapatkan dari pemutaran merupakan indikator yang lebih baik untuk mengukur dampaknya.”

Sebagian keberhasilan Ahu Parmalim dipengaruhi oleh peristiwa penting di Indonesia. Pada akhir 2017, pengadilan konstitusi Indonesia secara resmi mengesahkan hak-hak penganut kepercayaan lokal.

Para penganut agama/kepercayaan lokal tersebut tidak lagi diharuskan mengidentifikasikan dirinya sebagai Muslim, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, atau Konghucu pada kartu tanda penduduk mereka.

Keputusan ini, dan media yang membuat kasus ini menjadi populer di Indonesia, memberikan momentum yang luar biasa bagi Ahu Parmalim. Banyak audiens yang berusaha memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘agama/kepercayaan alternatif’ ini. Film dokumenter ini dirilis di waktu yang sangat tepat.

Sutradara film ini, Cicilia Maharani, mengakui fakta ini: “Kami bersyukur bahwa akhirnya film ini menemukan penontonnya sendiri. Diskusi setelah pemutaran film menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang penganut agama lokal seperti Carles.

Jenis-jenis Perubahan Sosial