Dampak Keterlibatan

Keterlibatan

Membuat video adalah proses penuh keterlibatan yang mengharuskan orang untuk bekerja bersama, mendengarkan satu sama lain, bereksperimen, dan menjadi kreatif. Orang dapat tertarik pada proses pembuatan film — baik karena kesempatan untuk berada di depan atau di belakang kamera, atau untuk mengamati proses pembuatan video.

Lebih penting lagi, proses pembuatan video dapat menarik mereka yang tidak terlibat dalam pengambilan keputusan produksi video. Mereka yang tidak datang pada pertemuan komunitas untuk kegiatan yang lain, lebih mungkin untuk datang di pemutaran film di mana mereka dapat melihat cuplikan daerah tempat tinggal mereka, teman atau keluarga mereka, atau mendengar orang berbicara tentang masalah yang mempengaruhi mereka.

Partisipasi, Kreasi Bersama, dan Kolaborasi

Jika proses pembuatan film Anda bersifat partisipatif, anggota tim Anda dapat bekerja sama dengan anggota masyarakat untuk secara kolektif menyusun, merencanakan, dan membuat video. Proses ini memungkinkan kelompok menyediakan waktu untuk mengidentifikasi, memprioritaskan, dan menyelidiki masalah yang ingin mereka atasi.

InsightShare memiliki kisah tentang dampak yang terjadi di komunitas pedesaan di India timur laut yang menggunakan video partisipatif untuk mengingat dan menghidupkan kembali pengetahuan tradisional tentang pangan dan pertanian lokal. Video ini memberikan gambaran mengenai apa yang bisa didapat dari partisipasi, kreasi bersama, dan kolaborasi.

Cerita Dampak: Makanan Lokal dari Desa Nongtraw

Judul: Makanan Lokal dari Desa Nongtraw (Local Food of Nongtraw Village)
Tahun: 2012
Lokasi: India Timur Laut
Dibuat oleh: Kemitraan masyarakat adat untuk keanekaragaman tanaman dan Kedaulatan Pangan dan InsightShare
Masalah: Pertanian, Pangan, Menghidupkan Kembali Tradisi Lama
Target/tujuan video: Untuk mendokumentasikan dan menghidupkan kembali pengetahuan tradisional seputar pangan dan pertanian
Dampak yang dicapai: Penyebaran pengetahuan pertanian yang vital antara komunitas petani, pemberdayaan komunitas petani yang terlibat, peningkatan kapasitas petani lokal untuk menanam milet.
Metodologi unggulan: Video Partisipatif, Video Arsip
Anggaran:
Durasi video: 12 menit
Durasi proyek: 12 bulan

Masyarakat adat di India timur laut menggunakan video partisipatif untuk mendokumentasikan dan menghidupkan kembali pengetahuan tradisional tentang pangan dan pertanian lokal. Partisipasi masyarakat lintas generasi selama pembuatan dan pemutaran film telah mengarah pada diskusi masyarakat yang sangat penting dan penggunaan beragam tata cara tradisional, termasuk peningkatan besar-besaran penanaman milet di antara komunitas-komunitas di Bukit Khasi, Meghalaya.

Latar Belakang Film

Pada 2012, sebuah proyek video partisipatif percontohan InsightShare di Meghalaya mendapat respon yang antusias dari komunitas yang terlibat. Sejak itu organisasi ini mengadakan pelatihan bagi komunitas pembuat film dari 9 komunitas adat di India timur laut. (Kemitraan Masyarakat Adat untuk Keanekaragaman Tanaman dan Kedaulatan Pangan mengundang dan mendanai pembuat film ini).

Pembuat film ini melibatkan kelompok masyarakat yang lebih luas di daerah tersebut untuk mengeksplorasi beragam budaya, makanan, dan sistem pertanian mereka sendiri. Hasilnya adalah kumpulan video yang unik — secara lokal disebut sebagai “arsip tanah, kehidupan, sumber daya, dan budaya kami” — mencakup subjek beragam seperti pemeliharaan benih, ladang berpindah, lagu rakyat, legenda daerah, makanan tradisional, teknik tenun, masa depan pertanian, dan banyak lagi.

Film-film pemenang penghargaan ini diputar di seluruh wilayah daerah tersebut sebagai sarana berbagi pengetahuan dan inspirasi yang sangat penting. Film tersebut juga diputar di berbagai acara bergengsi di seluruh daerah bagian tersebut, termasuk di Indigenous Terra Madre.

“Cara kami mewariskan pengetahuan, keterampilan, tata cara, sejarah, dan gaya hidup adalah melalui tradisi lisan. Ketika tidak ada dokumentasi tertulis, ini semua hilang dengan meninggalnya pemegang pengetahuan. Video partisipatif berkontribusi untuk mengisi ketimpangan itu,” kata Seno Tsuhah, North East Network (NEN)

Makanan Lokal dari Desa Nongtraw — versi singkat dari film yang dibuat selama proyek percontohan:

Anda juga dapat mengunjungi Showreel yang berisi berbagai macam video dan informasi lainnya tentang “Indigenous Community Video Collective” ini.

Proses

Proyek video percontohan berlangsung selama 8 hari di desa Nongtraw, Bukit Khasi Timur, Meghalaya. Dua puluh anggota komunitas, tua dan muda, bekerja bersama untuk memilih topik film mereka, mempelajari keterampilan dasar pembuatan video, dan memutuskan gaya film yang akan menjangkau audiens lokal.

Hasilnya adalah 3 film pendek yang memperlihatkan dan mengeksplorasi berbagai tata cara yang ingin mereka dokumentasikan dan hidupkan kembali: menanam milet, mengumpulkan akar untuk teh yang berkhasiat/obat, dan memelihara lebah. Untuk melakukan ini, mereka menggunakan pendekatan dramatis dimana seorang ayah mengajar anak-anaknya berbagai tata cara tersebut.

Para tetua yang berpengetahuan mengarahkan storyboarding dan akting, sementara generasi yang lebih muda belajar tentang langkah-langkah dari tiap tata cara seraya mereka akting. Bagi banyak orang muda tersebut, ini adalah pertama kalinya mereka mengalami berbagai tata cara itu.

Setiap malam di hari pembuatan film, tim inti berkumpul di rumah-rumah atau gedung sekolah untuk menonton dan mengedit rekaman gambar yang diambil di hari itu. Ini memungkinkan orang-orang dari komunitas yang lebih luas untuk datang dan belajar tentang proyek tersebut, menonton rekaman, bertanya tentang berbagai tata cara itu, dan terlibat dalam pembuatan film pada hari berikutnya.

Pada akhir minggu, hampir seluruh warga, serta masyarakat sekitarnya, menghadiri pemutaran film terakhir. Tim inti memfasilitasi perayaan yang menggembirakan, yang mendorong orang untuk belajar tentang berbagai tata cara tersebut dan menyajikan hasil panen yang telah mereka panen atau buat dari hasil panen tersebut. Film-film tersebut terus diputar di desa secara teratur.

Dampak

Proses pembuatan film menjadi instrumen dalam menciptakan dampak secara lokal. Ketika tim inti keluar untuk membuat film di komunitas mereka, itu menciptakan ‘gema’ yang menginspirasi orang untuk terlibat, memicu refleksi serta diskusi seputar praktik pertanian.

Kehadiran kamera juga menyatukan orang-orang untuk mempelajari praktik pertanian yang kemudian mereka praktikkan di depan kamera. Kegiatan akting ini memberikan akses penting ke suatu pengetahuan dan keterampilan yang dapat mendukung ketahanan mereka di dalam situasi iklim, lingkungan, dan pasar yang berubah.

Hasilnya, para pembuat film lebih bangga pada adat istiadat dan praktik pertanian setempat, menyadari kesempatan berharga untuk mempelajari itu semua. Sementara itu, peserta dari generasi yang lebih tua dengan senang hati menyampaikan pengetahuan mereka dan melihat tata cara dan adat istiadat tersebut kembali dihidupkan.

Pemutaran film di komunitas mengarah pada diskusi komunitas yang sangat penting, mendorong pemanfaatan berbagai tata cara tradisional, termasuk penanaman milet besar-besaran di antara komunitas-komunitas di Bukit Khasi. Milet adalah tanaman yang sangat bergizi yang dapat disimpan hingga 10 tahun untuk menyediakan sumber makanan darurat yang penting.

Saat proyek ini berlangsung, desa berpopulasi 285 orang itu hanya memiliki beberapa orang yang tahu cara menanam milet. Sembilan bulan kemudian, jumlah keluarga yang menanam milet di daerah itu meningkat dari 2 menjadi 15.

Penduduk desa yang menyokong keluarga mereka dan masih tinggal di desa itu bersyukur atas pengetahuan yang memungkinkan mereka hidup berkelanjutan dari sumber daya lokal, lebih baik dari mendapatkan uang melalui tanaman komersial yang merusak demi membeli makanan di pasar lokal.

Anak muda juga merasa lebih bangga pada identitas budaya lokal dan terinspirasi untuk mempelajari keterampilan pembuatan film.

“Proyek video partisipatif sangat membantu karena kami telah mengingat masa lalu. Saya akan sangat sedih jika ini tidak terjadi, karena semua orang muda akan lupa,” kata Bah Richard, Guru dan Komite Pengembangan Desa, Desa Nongtraw. “Tadi malam di pemutaran film kami bertanya kepada hadirin, ‘Berapa banyak dari Anda yang pernah mendengar tentang ‘shiah krot’ (akar lokal untuk membuat teh)?’, dan kurang dari 10 orang mengangkat tangan. Selain itu, mereka harus siap, karena di masa depan bencana dapat datang kapan saja, sehingga mereka harus mengetahui sumber daya lokal yang tersedia,”

Refleksi dan Aksi

Proses pengumpulan rekaman lokasi dan wawancara dapat membantu peserta merefleksikan masalah yang mempengaruhi mereka. Rekaman dapat bertindak seperti cermin bagi individu dan komunitas untuk melihat diri mereka sendiri, untuk menjelaskan masalah yang terlupakan.

Proses pembuatan film juga mengajak orang masuk ke dalam percakapan seputar isu-isu penting, berbagi cerita dan mendengarkan orang lain, mengembangkan rasa saling pengertian dan empati. Video (dan bentuk-bentuk lain dari penceritaan visual, seperti konten interaktif atau imersif) memiliki kekuatan untuk menciptakan hubungan emosional. Semua ini menjadi dasar yang kuat dalam melakukan aksi bersama menuju perubahan.

Representasi diri

Ketika proses pembuatan film benar-benar partisipatif, kreasi bersama atau kolaboratif, proses ini menciptakan rasa kepemilikan. Anggota komunitas terdampak yang terlibat dalam inisiatif video Anda memutuskan apa yang harus ditunjukkan, mengapa, di mana, kapan, dan kepada siapa.

Ini berarti video yang dihasilkan akan:

  • mewakili realitas suatu kelompok, menguatkan suara-suara yang tidak pernah terdengar dan sudut pandang yang diremehkan
  • ditargetkan secara realistis untuk mencapai perubahan
  • memiliki lebih banyak peluang untuk dilihat dan didukung secara lokal atau oleh komunitas yang lebih luas.
Sebelum Pengambilan Gambar